JURNAL MANURUNGE

Jurnal Pendidikan Manurunge.

PROFIL

Jurnal Pendidikan Manurunge

PROGRAM

Jurnal Pendidikan Manurungee

JURNAL ILMIAH

Jurnal Pendidikan Manurunge

KONTAK KAMI

Jurnal Pendidikan Manurunge

Senin, 20 Februari 2012

Tugas dan Fungsi Guru

Tugas Guru - Sebagai seorang pendidik yang memahami fungsi dan tugasnya, guru khususnya ia dibekali dengan berbagai ilmu keguruan sebagai dasar, disertai pula dengan seperangkat latihan keterampilan keguruan dan pada kondisi itu pula ia belajar memersosialisasikan sikap keguruan yang diperlukannya. Seorang yang berpribadi khusus yakni ramuan dari pengetahuan sikap danm keterampilan keguruan yang akan ditransformasikan kepada anak didik atau siswanya. Guru yang memahami fungsi dan tugasnya tidak hanya sebatas dinding sekolah saja, tetapi juga sebagai penghubung sekolah dengan masyarakat yang juga memiliki beberapa tugas menurut Rostiyah (dalam Djamarah, 2000 : 36) mengemukakan bahwa fungsi dan tugas guru profesional adalah : Menyerahkan kebudayaan kepada anak didik berupa kepandaian, kecakapan dan pengalaman-pengalaman Membentuk kepribadian anak yang harmonis sesuai cita-cita dan dasar negara kita Pancasila Menyiapkan anak menjadi warga negara yang baik sesuai dengan Undang-Undang Pendidikan yang merupakan keputusan MPR No. 2 Tahun 1983 Sebagai prantara dalam belajar Guru adalah sebagai pembimbing untuk membawa anak didik ke arah kedewasaan. Pendidik tidak maha kuasa, tidak dapat membentuk anak menurut kehendak hatinya Guru sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat Sebagai penegak disiplin. Guru menjadi contoh dalam segala hal, tata tertib dapat berjalan apabila guru menjalaninya terlebih dahulu Sebagai adminstrator dan manajerGuru sebagai perencana kurikulum Guru sebagai pemimpin Guru sebagai sponsor dalam kegiatan anak-anak Seorang guru baru dikatakan sempurna jika fungsinya sebagai pendidik dan juga berfungsi sebagai pembimbing. Dalam hal ini pembimbing yang memiliki sarana dan serangkaian usaha dalam memajukan pendidikan. Seorang guru menjadi pendidik yang sekaligus sebagai seorang pembimbing. Contohnya guru sebagai pendidik dan pengajar sering kali akan melakukan pekerjaan bimbingan, seperti bimbingan belajar tentang keterampilan dan sebagainya dan untuk lebih jelasnya proses pendidikan kegiatan mendidik, mengajar dan membimbing sebagai yang taka dapat dipisahkan. Membimbing dalam hal ini dapat dikatakan sebagai kegiatan menuntun anak didik dalam perkembanganya dengan jelas dmemberikan langkah dan arah yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Sebagai pendidik guru harus berlaku membimbing dalam arti menuntun sesuai dengan kaidah yang baik dan mengarahkan perkembangan anak didik sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan, termasuk dalam hal ini yang terpenting ikut memecahkan persoalan-persoalan dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak didik. Dengan demikian diharapkan menciptakan perkembangan yang lebih baik pada diri siswa, baik perkembangan fisik maupun mental. Dari uraian di atas secara rinci peranan guru dalam kegiatan belajar mengajar dapat disebutkan sebagai berikut :
1. Fasilitator Sebagai fasilitator guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar mengajar.
2. Motivator Sebagai motivator guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah dan aktif belajar.
3. Informator Sebagai informator guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selain sejumlah bahan pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang diprogramkan dalam kurikulum.
4. Pembimbing Peran guru yang tidak kalah pentingnya dari semua peran yang telah disebutkan di atas adalah sebagai pembimbing.
5. Korektor Sebagai korektor guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan buruk 6. Inspirator Sebagai inspirator guru harus dapat membedakan ilham yang baik bagi kemajuan anak didik.
7. Organisator Sebagai organisator adalah sisi lain dari peranan yang diperlukan oleh guru dalam bidang ini memiliki kegiatan pengelolaan kegiataan akademik dan lain sebagainya.
8. Inisator Sebagai inisiator guru harus dapat menjadi pencetur ide-ide kemajuan dan pendidikan dalam pengajaran.
9. Demonstrator Dalam interaksi edukatif, tidak semua bahan pelajaran anak didik pahami.
10. Pengelolaan kelas Guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik karena kelas adalah tempat terhimpun semua anak didik dan guru dalam rangka menerima bahan pelaaran dari guru.
11. Mediator Guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya baik media non material maupun material.
12. Supervisor Guru hendaknya dapat membantu memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran.
13. Evaluator Guru dituntut untuk menjadi evaluator yang baik dan jujur dengan memerikan penilaian yang menyentuh aspek intrinsik dan ekstrinsik. Tugas guru

Memacu Kemampauan Guru Menulis

Kalangan Guru hendaknya mulai membiasakan menulis bila perlu jadikan menulis sebagai keahlian, sebab mulai 2013 kemampuan menulis akan berpengaruh besar untuk jenjang kenaikan kepangkatan dan gologan guru. Menulis bagian kategori pengembangan profesi yang termasuk dalam unsur utama seperti yang diamanhkan Permenpan No.16/2009. Karya tulis Guru ada poinnya untuk menunjang kenaikan pangkat dan golongan. Macam-macamnya banyak bisa berupa PTK (Penelitian Tindakan Kelas), Karya Inovasi, Penemuan Teknologi Tepat Guna, Menulis Alat Peraga, Penulisan Buku, atau Karya Ilmiah yang dipublikasikan baik di media Massa maupun Internet. Hal tersebut diungkapkan oleh  Prof. Abd. Salam salah satu pemateri pada acara pelatihan penghitungan angka kredit jabatan fungsional Guru.. 12/02/2012
Kegiatan yang berlangsung di aula UPTD Pendidikan Kecamatan Tanete Riattang kabupaten Bone dalam seminar sehari itu diikuti CPNS dan PNS yang rata-rata akan memasuki Golongan IIIA atau sudah IIIA menuju IIIB. Pemrakarsa kegiatan tersebut adalah Dinas Pendidikan Nasional (Diknas Kabupaten Bone. Beliau menambahkan 3 unsur utama yang dipertimbangkan pada kenaikan pangkat berdasarkan Permenpan 16/1993, Selain aspek pengembangan professi, ada Diklat (Ijazah) dan Profesi Belajar Mengajar (PBM). Unsur PBM meliputi perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, analisi hasil, dan program perbaikan serta pengayaan materi. Kalau mengacu permenpan baru (Permenpan 16/2009), unsur utama bobotnya 90% dan penunjang 10%. unsur penunjang itu seperti sertifikat mengikuti seminar atau kegiatan produktif lain tambahnya.
Sementara itu Sekretaris Disdik kabupaten Bone mengungkapkan sosialisasi tersebut untuk memberikan pemahaman dan pengertian Guru dalam menghitung kredit poin. Kami menumbuhkan dengan membiasakan menulis materi-materi pelajaran yang baru disampaikan, ucapnya. .(Jurnal Arung Palakka)

Meningkatkan Kreativitas Guru

Guru menulis
Bagi guru yang memang CINTA pekerjaan, semua rintingan yang membuat mandek akan diterjangnya. Keringat yang bercucuran, letih dan capek tak akan terlulu diperdulikan oelh guru yang cinta menjadi guru. Yang ada justru sebaliknya, setiap pengormannaya yang dialakkan, dia kan meresakan kenikmatin spiritual.
Guru kreatif selalu memandang bahwa keragaman siswa adalah sebuah tantangan. Keragaman siswa bisa menjadi potensi besar bila dikembangkan. Guru kreatif selalu memikirkan strategi pembelajarannya, dan selalu memperbaiki dirinya dengan berbagai tindakan kelas. Mencoba mencari metode-metode baru dalam pembelajaran sehingga hasilnya sangat bermanfaat untuk guru lainnya. Berikut adalah tip tip bagi guru yang ingin menjadi guru kreatif.
1. Memahami profesi Guru
Profesi guru beda dangan profesi lain. Bila profesi laian kebanyakan berhadapan dengan benda, maka guru selalu berhadapan dengan manusia. Objek profesi guru adalah manusia yang berakal, yang beragam tingkah dan keinginannya. Apalagi manusia itu adalah munusia yang dalam pertumbuahan akal dan tingkah laku. Perkerjaan sebagai guru dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat kelak. Bila guru mngajar sesuatu yang baik, mak itu akan menjadi amal jariah guru tersebut. Bila yang diajarkannya buruk, kemuidan murid-muridnya melakaukan keberukan tersebut, mak dia akan diminta pertanggung jawannya kelak.
2. Menghargai Waktu.
Harga diri manusia sangat tergantung dengan penghargaanya terhadap waktu. Guru mestilah memahaminya pentingnya waktu dalam pembelajaran. Guru yang kreatif akan datang lebih awal dan pulang lebih akhir. Guru professional bisa mengatur waktu PBM, pembalajaran terdiri dari beberapa kegiatan, daris appersebpsi sampat kesimpulan. Guru selayaknya bisa memanfaatkan waktu dengan maksimal untuk semua proses pembelajaran.
3. Membiasakan membaca
Di sebuah sekolah, biasanya perpustakaan cukup ramai dikunjungi siswa.Apalagi bila buku yang ada diperpustakaan banyak buku cerita yang bergambar. Namun seberapa sering guru datang ke perpustakaan unuk membaca buku? Dan apabila guru mau ke perpustakaan sekolah, adakah buku yang cocok untuk kebutuhan pengembangan pengetahuan guru?
Perlu perhatian pihak sekolah untuk kebuthan bacaan guru.
4. Membiasakan menulis
Guru yang rajin membaca, maka suatu saat akan tergetar hatinya utnuk menulis. Kebisaan menulis ini harus dipupuk oleh guru, Menulis itu ibarat pisau yang harus sering diasah. Guru yang rajin menulis, maka ia mempunyai kekuatan tulisan yang sangat tajam, layaknya sebilah pisau.
5. Mencoba sesuatu yang baru.
Guru sebaiknya rajin mencoba sesuatu yang baru dalam proses pembelajarannya. Dia harusnya selalu merasa kurang, dan selulu meresa ada yang harus diperbaiki. Guru tidak akan pernah menemukan proses kreativitas bila cara-cara yang digunakan dalam mengajar adalah cara-cara lama.
Peran guru dan sekolah bagi anak didik bersifat unik. Unik karena mereka tidak bisa menggeneralisasi kebutuhan anak didik dalam cara, bentuk, dan ukuran yang sama. Idealnya sebuah sekolah Guru bukan lagi “aktor” di kelas, dengan kekuasaannya dan pengetahuannya, yang mengatur apa pun yang terjadi di kelas. Peran guru lebih menjadi fasilitator. Ia juga lebih menjadi motivator. Perkembangan anak memiliki karakteristik yang harus disadari guru. Peran itu tidak akan mungkin dijalankan seorang guru ketika mereka sendiri tidak mau menyiapkan diri, belajar terus-menerus, dan mengembangkan diri ke arah yang lebih baik Seorang guru memiliki pengaruh yang demikian besar bagi anak didik. Guru adalah seorang pembelajar.

Minggu, 12 Februari 2012

Raja Bone I Manurunge Ri Matajang

Dalam lontara’ tersebut diketahui bahwa setelah habisnya turunan Puatta Menre’E ri Galigo, keadaan negeri-negeri diwarnai dengan kekacauan. Hal ini disebabkan karena tidak adanya arung (raja) sebagai pemimpin yang mengatur tatanan kehidupan bermasyarakat. Terjadilah perang kelompok-kelompok anang (perkauman) yang berkepanjangan (Bugis = Sianre bale).

Kelompok-kelompok masyarakat saling bermusuhan dan berebut kekuasaan. Kelompok yang kuat menguasai kelompok yang lemah dan memperlakukan sesuai kehendaknya. Keadaan yang demikian itu, dalam Bahasa Bugis disebut SIANRE BALE (saling memakan bagaikan ikan). Tidak ada lagi adat istiadat, apalagi norma-norma hukum yang dapat melindungi yang lemah. Kehidupan manusia saat itu tak ubahnya binatang di hutan belantara, saling memangsa satu sama lain.

Menurut catatan lontara’, keadaan yang demikian itu berlangsung kurang lebih tujuh pariyama lamanya. Menurut hitungan lama, satu pariyama mungkin sama dengan 100 tahun. Jadi kalau mengacu pada perhitungan ini maka dapat dipastikan bahwa turunan Puatta MenreE ri Galigo telah hilang 700 tahun yang lalu. Bone dan negeri-negeri sekitarnya mengalami kekacauan yang sangat luar biasa. Wallahu a’lam bissawab.

Adapun awal datangnya seorang arung (raja) di Bone yang dikenal dengan nama ManurungE ri Matajang Mata SilompoE, ditandai dengan gejala alam yang menakutkan dan mengerikan. Terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat, kilat dan guntur sambar menyambar, hujan dan angin puting beliung yang sangat keras.

Setelah keadaan itu reda dan sangat tak terduga, tiba-tiba di tengah lapangan yang luas kelihatan ada orang berdiri dengan pakaian serba putih. Karena tidak diketahui dari mana asal usulnya, maka orang menyangkanya To Manurung yaitu manusia yang turun dari langit. Orang banyak pun pada datang untuk mengunjunginya.

Adapun kesepakatan orang yang menganggapnya sebagai To Manurung adalah untuk mengangkatnya menjadi arung (raja) agar ada yang bisa memimpin mereka. Orang banyak berkata ; ”Kami semua datang ke sini untuk meminta agar engkau jangan lagi mallajang (menghilang). Tinggallah menetap di tanahmu agar engkau kami angkat menjadi arung (raja). Kehendakmu adalah kehendak kami juga, perintahmu kami turuti. Walaupun anak isteri kami engkau cela, kami pun mencelanya, asalkan engkau mau tinggal”.

Orang yang disangka To Manurung menjawab ; ”Bagus sekali maksudmu itu, namun perlu saya jelaskan bahwa saya tidak bisa engkau angkat menjadi arung sebab sesungguhnya saya adalah hamba sama seperti engkau. Tetapi kalau engkau benar-benar mau mengangkat arung, saya bisa tunjukkan orangnya. Dialah arung yang saya ikuti”.

Orang banyak berkata ; ” Bagaimana caranya kami mengangkat seorang arung yang kami belum melihatnya?”.

Orang yang disangka To Manurung menjawab ; ”Kalau benar engkau mau mengangkat seorang arung , saya akan tunjukkan tempat – matajang (terang), disanalah arung itu berada”.

Orang banyak berkata ; ”Kami benar-benar mau mengangkat seorang arung, kami semua berharap agar engkau dapat menunjukkan jalan menuju ke tempatnya”.

Orang yang disangka To Manurung (konon bernama Pua’ Cilaong dari Bukaka), mengantar orang banyak tersebut menuju kesuatu tempat yang terang dinamakan Matajang (berada dalam kota Watampone sekarang).

Gejala alam yang mengerikan tadi kembali terjadi. Guntur dan kilat sambar menyambar, angin puting beliung dan hujan deras disusul dengan gempa bumi yang sangat dahsyat. Setelah keadaan reda, nampaklah To Manurung yang sesungguhnya duduk di atas sebuah batu besar dengan pakaian serba kuning. To Manurung tersebut ditemani tiga orang yaitu ; satu orang yang memayungi payung kuning, satu orang yang menjaganya dan satu orang lagi yang membawa salenrang.

To Manurung berkata ; ”Engkau datang Matowa?”

MatowaE menjawab ; ”Iyo, Puang”.

Barulah orang banyak tahu bahwa yang disangkanya To Manurung itu adalah seorang Matowa. Matowa itu mengantar orang banyak mendekati To Manurung yang berpakaian serba kuning.

Berkatalah orang banyak kepada To Manurung ; ”Kami semua datang ke sini untuk memohon agar engkau menetap. Janganlah lagi engkau mallajang (menghilang). Duduklah dengan tenang agar kami mengangkatmu menjadi arung. Kehendakmu kami ikuti, perintahmu kami laksanakan. Walaupun anak isteri kami engkau cela, kami pun mencelanya. Asalkan engkau berkenan memimpin kami”.

To Manurung menjawab ; ”Apakah engkau tidak membagi hati dan tidak berbohong?”

Setelah terjadi kontrak sosial antara To Manurung dengan orang banyak, dipindahkanlah To Manurung ke Bone untuk dibuatkan salassa (rumah). To Manurung tersebut tidak diketahui namanya sehingga orang banyak menyebutnya ManurungE ri Matajang. Kalau datang di suatu tempat dan melihat banyak orang berkumpul dia langsung mengetahui jumlahnya, sehingga digelar Mata SilompoE.

ManurungE ri Matajang inilah yang menjadi Mangkau’ (raja) pertama di Bone. ManurungE ri Matajang kemudian kawin dengan ManurungE ri Toro yang bernama We Tenri Wale. Dari perkawinan itu lahirlah La Ummasa dan We Pattanra Wanuwa, lima bersaudara.

Adapun yang dilakukan oleh ManurungE ri Matajang setelah diangkat menjadi Mangkau’ di Bone adalah – mappolo leteng (menetapkan hak-hak kepemilikan orang banyak), meredakan pula segala bentuk kekerasan dan telah lahir yang namanya bicara (adat). ManurungE ri Matajang pula yang membuat bendera kerajaan yang bernama WoromporongE.

Setelah genap empat pariyama memimpin orang Bone, dikumpulkanlah seluruh orang Bone dan menyampaikan ; ”Duduklah semua dan janganlah menolak anakku La Ummasa untuk menggantikan kedudukanku. Dia pulalah nanti yang melanjutkan perjanjian antara kita”.

Hanya beberapa saat setelah mengucapkan kalimat itu, kilat dan guntur sambar menyambar. Tiba-tiba ManurungE ri Matajang dan ManurungE ri Toro menghilang dari tempat duduknya. Salenrang dan payung kuning turut pula menghilang membuat seluruh orang Bone pada heran. Oleh karena itu diangkatlah anaknya yang bernama La Ummasa menggantikannya sebagai arung (Mangkau’) di Bone.

Petunjuk Penulisan

Petunjuk Penulisan
Informasi Umum
Jurnal Pendidikan Arupalakka terbit dengan frekuensi 3 (tiga) kali setahun setiap bulan Desember, April, dan Agustus. Jurnal Pendidikan Arupalakka hadir sebagai wadah publikasi artikel bagi para peneliti, guru, dan dosen dalam lingkup pendidikan.

Petunjuk Umum
1.Artikel dapat ditulis dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia yang baik dan benar. Artikel dapat berupa hasil-hasil penelitian, kajian ilmiah, dan analisis serta pemecahan permasalahan dalam bidang pendidikan serta belum pernah dipublikasikan dalam jurnal atau majalah ilmiah lainnya.
2.Artikel harus ditulis pada kertas HVS ukuran A4 (210 x 297 mm). Artikel ditulis tanpa nomor halaman dan disusun dengan urut-urutan topik bahasan: Pendahuluan, Metode Penelitian (atau Pengembangan Model), Hasil dan Pembahasan, Kesimpulan, Ucapan Terima Kasih (kalau ada), Daftar Notasi (jika ada) dan Daftar Pustaka. Abstrak ditulis sesuai dengan bahasa yang digunakan.
3.Artikel yang ditulis meliputi hasil pemikiran dan hasil penelitian dalam bidang pendidikan. Naskah diketik dengan huruf Times New Roman , ukuran 12 pts, dengan spasi 2,dicetak pada kertas A4 maksimum 25 halaman (no. hal kanan atas) dengan margin top 4; bottom 3; left 4 dan right 3 cm, dan diserahkan dalam bentuk print-out sebanyak 2 eksemplar beserta soft file. Berkas (soft file ) dibuat dengan Microsoft Word.
4.Pengiriman file juga dapat dilakukan sebagai attachment e-mail ke alamat: jurnalarupalakka@gmail.com
5.Nama penulis artikel dicantumkan tanpa gelar akademik dan ditempatkan di bawah judul artikel 12 pts. Jika penulis terdiri dari 4 orang atau lebih, yang dicantumkan di bawah judul artikel adalah nama penulis utama; nama penulis-penulis lainnya dicantumkan pada catatan kaki halaman pertama naskah 12 pts. Dalam hal naskah ditulis oleh tim, penyunting hanya berhubungan dengan penulis utama atau penulis yang namanya tercantum pada urutan pertama. Penulis dianjurkan mencantumkan alamat e-mail untuk memudahkan komunikasi.

Petunjuk Penulisan
1.Artikel ditulis dalam format esai , disertai judul pada masing-masing bagian artikel, kecuali bagian pendahuluan yang disajikan tanpa judul bagian. Judul artikel dicetak dengan huruf besar-kecil di tengah-tengah, dengan huruf sebesar 12 pts spasi tunggal. Peringkat judul bagian dinyatakan dengan jenis huruf yang berbeda (semua judul bagian dan subbagian dicetak tebal atau tebal dan miring ), dan tidak menggunakan angka/nomor pada judul baglan: PERINGKAT 1 (HURUF BESAR SEMUA, TEBAL, RATA TEPI KIRI) Peringkat 2 (Huruf Besar Kecil, Tebal, Rata Tepi Kiri) Peringkat 3 (Hurcef Besar Kecil, Tebal-Miring, Rata Tepi Kiri) •
2.Sistematika artikel hasil pemikiran adalah: judul; nama penulis (tanpa gelar akademik); abstrak (maksimum 150 kata); kata kunci; pendahuluan (tanpa judul) yang berisi latar belakang dan tujuan atau ruang lingkup tulisan; bahasan utama (dapat dibagi ke dalam beberapa sub-bagian); penutup atau kesimpulan; daftar rujukan.
3.Sistematika artikel hasil penelitian adalah: judul; nama penulis (tanpa gelar akademik); abstrak (maksimum 150 kata) yang berisi tujuan, metode, dan hasil penelitian; kata kunci (italic font); pendahuluan (tanpa judul) yang berisi latar belakang, sedikit tinjauan pustaka, dan tujuan penelitian; metode; hasil; pembahasan; kesimpulan dan saran; daftar rujukan.
4.Sumber rujukan sedapat mungkin merupakan pustaka-pustaka terbitan 10 tahun terakhir. Rujukan yang diutamakan adalah sumber-sumber primer berupa laporan penelitian (termasuk skripsi, tesis, disertasi) atau artikel-artikel penelitian dalam jurnal dan/atau majalah ilmiah.
5.Daftar rujukan/isu disusun dengan tata cara seperti contoh berikut ini dan diurutkan secara alfabetis dan kronologis spasi tunggal.

Pemuatan Artikel
Redaksi berhak menolak artikel yang dikirim apabila tidak relevan dengan bidang pendidikan, tidak up to date atau sudah pernah dipublikasikan dalam majalah ilmiah lainnya.

Artikel dikirimkan kepada :
________________________________________
Redaksi Jurnal Pendidikan manurunge
........................
E-mail  : jurnalmanurunge@yahoo.com